Momentum Isra Mi’raj 1447 H, Dedie Rachim Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Ibadah
- account_circle Nellyani
- calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, bogornews– Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1447 Hijriah tingkat Kota Bogor berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Masjid Agung Al-Isra, Jalan Nyi Raja Permas, Selasa (20/1/2026). Ratusan jamaah memadati masjid untuk mengikuti rangkaian acara yang sarat pesan spiritual dan moral.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dalam sambutannya menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan momentum besar dalam sejarah Islam, karena pada peristiwa inilah Allah SWT menurunkan perintah salat lima waktu secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW.
“Isra Mi’raj adalah peristiwa besar, karena di sanalah turun perintah salat. Jika perintah salat yang kita terima langsung dari Allah SWT ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka 1.500 masjid dan musala di Kota Bogor paling tidak akan melahirkan orang-orang yang berakhlak mulia,” ujar Dedie Rachim di hadapan jamaah.
Dedie mengakui, hingga kini masih banyak umat Islam yang belum sempurna dalam melaksanakan salat lima waktu. Menurutnya, perbaikan kualitas ibadah salat harus terus diupayakan oleh setiap individu agar benar-benar mampu membentuk akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Masih banyak dari kita yang belum sempurna menjalankan tugas mulia ini. Melalui peringatan Isra Mi’raj dan tausiyah yang disampaikan, mudah-mudahan kita terinspirasi bahwa rangkaian salat seharusnya membentuk kepribadian dan akhlak yang baik,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dedie juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ibadah wajib dan ibadah lainnya. Menurutnya, ibadah-ibadah sunnah dan amalan sosial dapat menjadi pelengkap dalam kehidupan beragama.
“Ibadah wajib harus diimbangi dengan ibadah-ibadah lainnya. Siapa tahu ibadah wajib kita masih bolong-bolong, bisa ditambal dengan amal kebaikan lain. Contoh sederhana, tidak membuang sampah sembarangan. Kalau itu kita lakukan bersama, insyaallah tidak akan terjadi banjir,” jelasnya.
Sementara itu, penceramah K.H. Fikri Haikal MZ dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Isra Mi’raj menegaskan posisi salat sebagai sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT tanpa perantara.
“Salat adalah komunikasi langsung seorang hamba kepada Tuhannya, dimulai dengan niat dan takbir, diakhiri dengan salam. Dengan salat lima waktu, hati kita selalu diingatkan akan kehadiran Allah SWT,” ucapnya.
Ia menambahkan, salat yang dilaksanakan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan membentuk kepribadian yang seimbang dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan.
“Salat membuat hidup menjadi seimbang. Saat bahagia, kebahagiaan tidak berlebihan. Saat sedih, kesedihan tidak berlarut. Karena itu, jangan jadikan salat sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi sebagai media perbaikan diri,” pungkasnya.
- Penulis: Nellyani
- Editor: Nellyani
