Terseret Arus Kali Jantung 5 Kilometer, Bocah 3 Tahun Asal Cibinong Ditemukan Tewas di Depok
- account_circle Nellyani
- calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, bogornews– Peristiwa tragis menimpa seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun asal Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Korban bernama Aji Santoso dilaporkan hanyut terbawa arus Kali Jantung dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah terseret sejauh kurang lebih lima kilometer hingga wilayah Depok, Kamis (29/1/2026).
Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 08.30 WIB di kawasan Bedahan, RT 03/04, Desa Pabuaran Mekar, Kecamatan Cibinong. Saat itu, korban diketahui sedang bermain di tepi kali bersama kakaknya yang berusia 5 tahun.
Menurut keterangan Camat Cibinong, Acep Sajidin, korban terpeleset dan jatuh ke aliran kali. Melihat adiknya hanyut, sang kakak sempat berusaha menolong namun justru ikut terseret arus.
“Awalnya korban bermain di sekitar kali lalu terpeleset. Kakaknya mencoba menolong, tapi ikut hanyut. Beruntung kakaknya berhasil diselamatkan warga, sementara adiknya terbawa arus dan tidak terlihat lagi,” ujar Acep.
Seorang saksi warga bernama Rojak sempat memberikan pertolongan dan berhasil menyelamatkan sang kakak. Namun derasnya arus membuat korban berusia 3 tahun tersebut tak dapat ditolong.
Laporan kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jakarta sekitar pukul 12.00 WIB dari seorang relawan, Rizky Ilham Ramadhan. Proses pencarian kemudian melibatkan berbagai unsur, di antaranya TRC BPBD Kabupaten Bogor, Damkar Kabupaten Bogor, pihak kepolisian, serta warga setempat.
“Pencarian dilakukan sejak sekitar pukul 10.30 WIB hingga korban ditemukan pada pukul 14.24 WIB,” ungkap Acep.
Korban akhirnya ditemukan di Kampung Bendungan RT 01 RW 01, Kelurahan Cilodong, Kota Depok, yang masih berada di aliran Kali Jantung.
Setelah ditemukan, jenazah korban langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah duka. Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan proses otopsi.
“Keluarga sudah menerima dan memastikan korban adalah anak mereka, sehingga tidak dilakukan otopsi,” pungkas Acep.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat berada di sekitar aliran sungai dan area berisiko tinggi.
- Penulis: Nellyani
- Editor: Nellyani
