Indahnya Toleransi di Kota Hujan, 400 Anak Yatim Buka Puasa Bersama di Vihara Dhanagun
- account_circle Nellyani
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, BOGORNEWS– Harmoni keberagaman kembali terasa hangat di Kota Bogor. Bertepatan dengan bulan suci Ramadan dan rangkaian perayaan Cap Go Meh (CGM), ratusan anak yatim tampak khidmat mengikuti buka puasa bersama yang digelar di Vihara Dhanagun, Kota Bogor.
Sebanyak 400 anak yatim dari seluruh kecamatan di Kota Bogor menerima santunan dalam kegiatan yang diinisiasi panitia CGM bersama Pemerintah Kota Bogor tersebut. Suasana kebersamaan dan penuh toleransi begitu terasa di tengah lingkungan vihara yang biasanya identik dengan perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang hadir langsung dalam acara tersebut menegaskan bahwa momen ini menjadi bukti nyata kerukunan antarumat beragama di Kota Hujan. Ia menyebut tradisi berbuka puasa di lingkungan vihara sebagai sesuatu yang unik dan langka.
“Momen Ramadan yang bersanding dengan Cap Go Meh ini mungkin satu-satunya di Indonesia, dan itu adanya di Bogor. Setiap tahun, buka puasa selalu diselenggarakan di Vihara Dhanagun. Ini adalah bentuk solidaritas, toleransi, dan cara kita menguatkan silaturahmi antarwarga,” ujar Dedie.

Ratusan anak yatim diacara santunan dalam kegiatan yang diinisiasi panitia CGM bersama Pemerintah Kota Bogor
Menurutnya, keterlibatan tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah dalam kegiatan tersebut semakin menegaskan bahwa Bogor memiliki tingkat keberagaman dan toleransi yang tinggi.
Ketua Panitia Cap Go Meh Kota Bogor, Arifin Himawan, menjelaskan bahwa santunan kepada anak yatim ini menjadi pembuka rangkaian perayaan CGM tahun ini. Panitia telah berkoordinasi dengan perwakilan kecamatan agar bantuan tepat sasaran.
“Hari ini kami mengundang 400 anak yatim dari perwakilan setiap kecamatan di Kota Bogor. Ini adalah awal pembuka perayaan menuju Cap Go Meh. Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka di tengah suasana bulan suci,” jelas Arifin.
Ia menambahkan, perayaan CGM tahun ini digelar dengan sejumlah penyesuaian karena bertepatan dengan Ramadan. Nilai penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan ibadah menjadi prioritas utama.
Selama tiga hari, masyarakat tetap bisa menikmati pasar malam tempo dulu di kawasan Jalan Surya Kencana. Sementara itu, puncak acara berupa parade budaya dan pertunjukan barongsai akan digelar pada 3 Maret, setelah jamaah melaksanakan salat Tarawih.
Karena keterbatasan waktu di bulan Ramadan, partisipasi pengisi acara pun dibatasi hanya dari internal Kota Bogor guna menjaga kekhusyukan suasana.
“Tahun ini berbeda karena bertepatan dengan Ramadan. Waktu kita lebih terbatas, sehingga barongsai dan parade tidak semaksimal tahun lalu agar tidak mengganggu jalannya ibadah,” tambah Arifin.
- Penulis: Nellyani
- Editor: Nellyani
