Didominasi Wisatawan Korea Selatan, Sanggraloka Ubud Muncul sebagai Barometer Baru Eco-Luxury Retreat di Indonesia
- account_circle Nellyani
- calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALI, bogornews– Sanggraloka Ubud mencatatkan performa positif sepanjang akhir 2025 dengan dominasi wisatawan asal Korea Selatan sebagai pasar utama tamu asing. Tren ini menandai pergeseran signifikan arah pariwisata Bali menuju segmen wellness dan retret premium berbasis alam, budaya, serta privasi.
Pada masa soft-opening akhir 2025, tingkat hunian Sanggraloka Ubud diperkirakan telah mencapai 65–70 persen. Capaian ini menunjukkan kuatnya penerimaan pasar terhadap konsep eco-luxury wellness retreat yang diusung, sekaligus menempatkan properti tersebut sebagai salah satu tolok ukur baru pariwisata berkualitas di Indonesia.
Momentum positif ini sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Gubernur Bali I Wayan Koster mencatat jumlah kedatangan wisman telah melampaui 20.000 orang per hari, meningkat dari sekitar 17.000 kunjungan sebelum periode libur akhir tahun. Secara kumulatif, Bali menerima sekitar 6,7 juta wisatawan mancanegara hingga pertengahan Desember 2025, naik sekitar 400 ribu kunjungan dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengusung konsep perjalanan yang perlahan dan bermakna (slow and meaningful journey), Sanggraloka Ubud merancang pengalaman tamu secara berurutan. Perjalanan dimulai dari Forest Path dan kawasan sungai sebagai fase healing dan emotional cleansing melalui ritual melukat serta sound bath by the river. Tahapan ini kemudian berlanjut ke kebun organik sebagai ruang koneksi dan refleksi, sebelum berpuncak pada pengalaman farm-to-table dining dan cooking class.
Rangkaian pengalaman tersebut terbukti mendorong durasi menginap yang lebih panjang, meningkatkan kunjungan berulang, serta memperkuat posisi Sanggraloka Ubud bukan sekadar sebagai akomodasi, melainkan destinasi retret dengan nilai pengalaman holistik.
Wisatawan Korea Selatan Mendominasi
Di tingkat properti, wisatawan Korea Selatan menyumbang sekitar 28–32 persen dari total tamu asing pada akhir 2025. Tingginya minat pasar Korea ini selaras dengan karakter wisatawan yang menghargai privasi, ketenangan alam, estetika lanskap, serta pengalaman healing yang bernilai emosional—semua elemen yang menjadi kekuatan Sanggraloka Ubud.
“Kami melihat tamu kini datang dengan ekspektasi yang lebih dalam. Mereka menginginkan pengalaman yang menenangkan, autentik, dan bermakna. Capaian akhir 2025 menjadi validasi arah yang kami pilih,” ujar General Manager Sanggraloka Ubud, Komang Kariyana.
Selain fokus pada wellness, Sanggraloka Ubud juga mengembangkan fasilitas family-friendly dan celebration-ready, seperti kids playground, wedding chapel, serta ruang budaya, tanpa menghilangkan karakter retret yang tenang dan eksklusif.
Memasuki 2026, Sanggraloka Ubud memproyeksikan pertumbuhan yang terukur dengan menjaga keseimbangan antara okupansi, tarif premium, dan pengalaman bernilai tambah. Sejumlah pengembangan fasilitas telah disiapkan, antara lain pembangunan Wellness Pavilion untuk yoga dan breathwork, penguatan Forest Path sebagai ruang kontemplatif, serta pengembangan Art & Craft Studio untuk kolaborasi dengan perajin dan seniman lokal.
“Bagi kami, 2026 bukan tentang ekspansi agresif, melainkan pendalaman kualitas pengalaman, keberlanjutan, dan dampak positif bagi komunitas,” kata Komang.
Dengan fondasi okupansi yang solid, tren wisata Bali yang terus menguat, serta prospek industri pariwisata 2026 yang positif, Sanggraloka Ubud memasuki tahun ini dengan optimisme sebagai salah satu ikon retret mewah berkelanjutan di Bali.
- Penulis: Nellyani
- Editor: Nellyani
